Welcome to FRENDI FERNANDO (Majenang)Website ... monggo dinikmati...

Selasa, 24 Juni 2014

KKN STAIS Majenang Tahun 2014 di Desa Rawaapu - Patimuan



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai kurikulum wajib di perguruan tinggi yang merupakan salah satu  pengabdian masyarakat dalam bentuk konkrit guna melihat realitas problem masyarakat dan diharapkan mampu menyumbangkan solusi yang bersifat praktis dan serba guna.
Kelompok 3 KKN  merupakan salah satu kelompok yang ditugaskan untuk melaksanakan tugas Kuliah Kerja Nyata (KKN) didesa Rawaapu dalam rangka mengembangkan pegabdian kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan didalamnya, baik yang bersifat sektoral, maupun non sektoral dan juga merupakan kegiatan yang mempunyai manfaat ganda yaitu pengalaman mahasiswa dalam bermasyarakat dan pengalaman mahasiswa sebagai masyarakat intelek pada masyarakat majemuk dan heterogen.
B.     Tujuan Laporan
1.      Sebagai syarat untuk memenuhi tugas akademik pendidikan tingkat S1 di STAIS Majenang
2.      Membantu pemerintah dibidang pembangunan dalam upaya meningkatkan sumber daya manusia dengan indikator peningkatan tingkat pendidikan, tingkat kesehatan dan daya beli masyaraka teruama pada jalur-jalur informal di desa-desa.
3.      Membentuk pribadi muslim yang berakhlak mulia dan berilmu agama yang tinggi, sehingga selalu mempunyai tanggung jawab terhadap masa depan.
4.      Membina karakter dengan ciri khas ketauladanan (uswah) yang diharapkan mampu sebagai cermin dan tokoh yang patut dianut serta panuan masyarakat dalam rangka pengalaman ajaran dan sunah rosululloh SAW.
5.      Mengembangkan penalaran mahasiswa dan memberikan ketrampilan praktis memecahkan persialan-persoalan masyarakat yang merupakan bekal penting kelak apabila terjun sebagai masyarakat.
6.      Memperluas cakrawala berfikir mahasiswa dan memperdalam ilmu yang diperoleh dalam bangku kuliah dan yang dimasyarakat secara utuh dan terpadu.
7.      Memberikan kemampuan praktis pada mahasiswa dalam memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi saat dilokasi maupun tindak lanjut paska pelaksanaan.
8.      Memperoleh bimbingan dalam berbagai masalah kehidupan beragama, terutama dilihat dari kacamata agama.
C.    Sistematika Laporan
Untuk lebih terarahnya penulisan laporan maka sistematika penulisan laporan ini dibagi dalam beberapa bab yaitu seagai berikut :
Bab pertama, merupakan pendahuluan yang digunakan sebagai bahan acuan dalam penulisan selanjutnya, bab ini berisikan penjelasan tentang latar belakang, tujuan laporan, dan sistematika laporan.
Bab kedua, berisikan gambarann umum Desa Rawaapu yang berisi tentang deskripsi geografis serta orientasi dan identifikasi masalah.
Bab ketiga, berisikan program kerja yang terdiri dari bidang agama, bidang pendidikan, sosial, budaya, dan kesehatan, bidang pemerintahan, bidang sarana dan prasarana, dan lingkungan hidup, tujuan program dan target yang diinginkan.
Bab ke empat, berisikan tentang pelaksanaan program yang terdiri dari hasil pelaksanaan program kerja, faktor pendukung dan penghambat, dan tabulasi hasil program.
Bab ke lima, merupakan bab penutup yang berisikan kesimpulan dan saran.










BAB II
GAMBARAN UMUM DESA

A.    Deskripsi Geografis
Rawaapu adalah desa di Kecamatan Patimuan, Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia. Desa ini terletak di pinggir Sungai Citandui yang menjadi garis pembatas antara wilayah provinsi Jawa Tengah dengan Jawa Barat (Kabupaten Ciamis).
Jumlah penduduk yaitu 7.424 jiwa, penduduk Desa Rawaapu sebagian besar bermata pencarian sebagai petani dengan sambilan mengambil nira (nyadap badeg) dari pohon kelapa. Nira merupakan bahan baku untuk membuat gula merah (gula jawa). Warga Desa Rawaapu juga ada yang berprofesi sebagai nelayan musiman. Saat musim kemarau tiba, mereka pergi melaut di Segara Anakan atau Pantai Pangandaran sebab lahan pertanian tidak produktif. Sebagian besar area persawahan di Desa Rawaapu masih berupa lahan tadah hujan, ada juga areal yang dekat dengan saluran irigasi namun pembagian air belum merata.
Sebagian besar wilayah desa berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Barat, maka tidak heran apabila desa ini dihuni dua suku yang berbeda, yaitu suku Jawa dan Sunda. Perbedaan tersebut bukan merupakan ganjalan untuk dapat hidup bermasyarakat. Pembauran kedua suku ini dapat terlihat salah satunya dengan hubungan pernikahan antarsuku tersebut. Bahasa utama yang digunakan di wilayah ini adalah Bahasa Banyumasan, akan tetapi bahasa Sunda pun banyak digunakan oleh warga. Rata-rata penduduk wilayah Kecamatan Patimuan mampu berkomunikasi dalam dua bahasa daerah, yaitu Sunda dan Jawa (Banyumasan).
Dalam pementasan seni pertunjukan tradisional tidak jarang seni ronggeng dan wayang golek yang merupakan jenis kesenian Sunda dipentaskan dalam acara hajatan di rumah penduduk di daerah ini. Bahkan, di wilayah kecamatan tersebut terdapat beberapa kumpulan kelompok seni ronggeng. Masuknya unsur kebudayaan Sunda melalui kesenian ke dalam wilayah Kecamatan Patimuan membangun percampuran budaya penduduk setempat. Kebudayaan Jawa (Banyumas) terlihat melalui tumbuhnya berbagai jenis kesenian Jawa, seperti layaknya ebeg, lengger, dan wayang kulit gagrag Banyumas.
Desa Rawaapu terdiri dari empat Dusun, yaitu:
1.      Dusun Kalenanyar
2.      Dusun Rawaapu
3.      Dusun Cikuning
4.      Dusun Cikadim
Di Desa Rawaapu terdapat 6 (enam) Sekolah Dasar Negeri (SDN) dan 1 (Satu) Madrasah Ibtidayah (MI). Selain itu, ada Sekolah Menengah Lanjutan Pertama (SLTP) II Patimuan yang bangunannya masih menjadi satu dengan sekolah dasar. Berikut ini adalah nama-nama sekolah di Desa Rawaapu (2011).
1.      SDN I Rawaapu di Dusun Cikuning
2.      SDN 2 Rawaapu di Dusun Cikuning
3.      MI Darwata di Dusun Cikuning
4.      SDN 3 Rawaapu di Dusun Rawaapu
5.      SDN 4 Rawaapu di Dusun Rawaapu
6.      SDN 5 Rawaapu di Dusun Kalenanyar
7.      SDN 6 Rawaapu di Dusun Cikadim
8.      SLTPN 2 Patimuan di Dusun Cikuning (menjadi satu dengan SDN 2 Rawaapu)
Desa Rawaapu sendiri mempunyai 17 (tujuh belas) Masjid Jami dengan belasan Mushola.
B.     Orientasi dan Identifikasi Masalah
Sebelum menyusun program kerja, kami terlebih dahulu melakukan observasi dan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat dan pejabat pemerintah,dan lembaga pendidikan Desa Rawaapu. Tidak hanya satu dua orang saja yang kami temui, namun lebih dari itu, ini dikarenakan kami ingin mengetahui informasi yang sejelas-sejelasnya mengenai latar belakang penduduk Desa Rawaapu. Selain itu kami  juga mengadakan kerjasama dengan organisasi dan pemerintahan Desa Rawaapu.
Setelah kami melaksanakan observasi kami menemukan beberapa masalah yang kami jadikan sebagai program  kegiatan  KKN Posdaya berbasis Masjid di Desa Rawaapu, beberapa diantaranya:
a)      Kegiatan keagamaan yang berbasis di Masjid masih sangat kurang
b)      Tenaga mengajar ngaji di beberapa Masjid tidak ada
c)      Pengurus BKM sudah vakum.
d)     Pelaksanaan sholat jum’at masih sangat memprihatinkan.
e)      Masyarakat belum termotivasi untuk melaksanakan kegiatan  keagamaan di Masjid
f)       Banyak generasi muda yang tidak mengenyam pendidikan yang layak.





















BAB III
RENCANA PROGAM KERJA

Sebelum menyusun program kerja, kami terlebih dahulu melakukan observasi dan pendekatan kepada tokoh-tokoh masyarakat Desa Rawaapu. Dalam menyusun program kerja, kami mengacu kepada buku panduan KKN STAIS angkatan ke-3 tahun 2014, hasil observasi, serta permintaan dari masyarakat desa Rawaapu.
Adapun program kerja KKN STAIS desa Rawaapu yaitu :
  1. Bidang Sektoral
Program bidang sektoral adalah suatu program yang dibuat dan sesuai dengan jurusan perkuliahan kelompok KKN, yaitu pendidikan Agama lslam (PAl). Diantara program dalam bidang sektoral yang kami rencanakan meliputi dua bidang, yaitu:
1.      Bidang sektoral fisik
Diantara program bidang sektoral fisik antara lain :
a)      Plangisasi Masjid
b)      Pengecatan Masjid
c)      Pengadaan perpustakaan Masjid
d)     Penerangan Masjid
e)      Plangisasi Majlis Ta’lim
2.      Bidang sektoral non fisik
Diantara program bidang sektoral non fisik antara lain :
a)      Pembentukan Posdaya Masjid
b)      Menjadi panitia PHBI
c)      Lomba-lomba Keagamaan
d)     Mengajar di Majlis Ta’lim
e)      Memberdayakan Al Berjanji
f)       Partisipasi kegiatan Tahlil Yasin
g)      Partisipasi kegiatan Muslimatan
h)      Penyuluhan Keagamaan


B.        Bidang Lintas Sektoral
Program bidang lintas sektoral adalah suatu program yang dibuat diluar dengan jurusan perkuliahan kelompok KKN, yaitu program-program umum untuk kepentingan warga. Diantara program dalam bidang lintas sektoral yang kami rencanakan meliputi dua bidang, yaitu:
1.      Bidang lintas sektoral fisik
Diantara program bidang lintas sektoral fisik antara lain :
a)      Kerja bakti
b)      Plangisasi jalan
c)      Membuat papan nama Kades
d)     Penerangan jalan
e)      Penghijauan lingkungan
f)       Pembuatan Mading
2.      Bidang lintas sektoral non fisik
Diantara program bidang sektoral non fisik antara lain :
a)      Jalan sehat lima sempurna
b)      Les anak
c)      Penyuluhan pendidikan
d)     Penyuluhan kewirausahaan
e)      Partisipasi kegiatan Posyandu
f)       Mengadakan lomba-lomba permainan
g)      Membantu kinerja perangkat desa
C.      Tujuan program
a.       Bersama- sama dengan masyarakat turut andil dalam kegiatan pendidikan keagamaan sehingga diharapkan generasi mendatang dapat menjadi generasi penerus yang berakhlaqul karimah.
b.      Terciptanya lingkungan hidup yang sehat, sejahtera, dan religius.
c.       Menumbuhkan rasa semangat menuntut ilmu dikalangan santri diniyah melalui kegiatan mengajar, PHBI dan lomba-lomba.
d.      Merapihkan dan meningkatkan fungsi organisasi masjid melalui pembentukan pengurus Posdaya masjid di Masjid At Taqwa dan Baitul Munajah
e.       Mengembangkan pendidikan anak usia dini melalui perintisan kegiatan mengaj disore hari
f.       Memudahkan para pengguna jalan dengan pengadaan papan penunjuk jalan (plangisasi)
g.      Kembali bersama-sama ikut memakmurkan masjid
D.    Target yang diinginkan
a.       Terbentuknya Posdaya Masjid
b.      Untuk anak kecil dan remaja Desa Rawaapu bisa mengaji
c.       Fungsi organisasi Masjid bisa hidup dan lebih bermanfaat
d.      Masjid kembali Makmur dengan kegiatan keagamaan
e.       Masyarakat bisa membiasakan bergaya hidup sehat






















BAB IV
PELAKSANAAN PROGRAM KKN

A.    Hasil Pelaksanaan Program
Dalam kegiatan pelaksanaan program Majenang di Desa Rawaapu tahun 2014, sebelumnya kami melakukan sosialisasi dengan pemerintahan desa, tokoh masyarakat dan warga desa Rawaapu. Berikut laporan kegiatan KKN STAIS Majenang di Desa Rawaapu tahun 2014.
Adapun program kerja KKN STAIS di Desa Rawaapu terbagi dalam dua bidang, yaitu bidang sektoral dan lintas sektoral. Namun kegiatan KKN selama di Desa Rawaapu, dipusatkan di Dusun Cikadim dan Kalenanyar. Karena jarak masing-masing dusun di Desa Rawaapu sangat jauh dan akses jalan yang menghubungkan masing- masing dusun masih sulit.
1.    Bidang Sektoral
a)    Bidang Sektoral Fisik
Diantara bidang sektoral fisik antara lain:
1)   Pengadaan Papan Nama Masjid
Tujuan pengadaan plang masjid agar orang mudah mengenali nama Masjid tersebut.
2)   Rehab ringan Masjid
Rehab ringan ini berupa perbaikan sarana ibadah yaitu tempat wudhu yang memang sebelumnya tidak bisa dipergunakan, kemudian kami juga melakukan pengecatan sisi luar Masjid agar kelihatan bersih dan indah sehingga diharapkan akan memotivasi warga untuk ikut memakmurkan masjid
3)   Pengadaan buku-buku untuk perpustakaan Masjid
Pengadaan buku-buku tersebut bertujuan untuk memperkaya ilmu dan wawasan warga jamaah masjid agar bisa terus menambah ilmunya.
4)   Penerangan Masjid
Lokasi Masjid ditengah pedesaan dengan sedikitnya penerangan jalan membuat kami berinisiatif membuat beberapa titik penerangan didepan rumah-rumah warga terutama pada jalan menuju Masjid
5)   Pengadaan papan struktur Posdaya di Masjid Baiturrohman dan Visi Misi Majlis Ta’lim.
Pengadaan papan struktur ini bertujuan agar menjadi informasi bahwa Masjid tersebut merupakan Masjid Posdaya sehingga sangat layak untuk dimakmurkan bersama-sama melalui kegiatan yang positiif didalamnya.
b)      Bidang Sektoral Non Fisik
Sedangkan untuk bidang sektoral non fisik, antara lain:
1)      Membentuk Posdaya Masjid
Hal ini bertujuan untuk memperkuat struktural organisasi Masjid dan menjadi acuan bahwa Masjid terbut adalah Masjid Posdaya yang harus diberdayakan dengan kegiatan-kegiatan positif masyarakat didalamnya.
2)      Menjadi Panitia PHBI
Kegiatan ini kami laksanakan sebagai sumbangsih tenaga kami dalam membantu pelaksanaan kegiatan hari besar islam. Diantaranya kami membantu membuat dan memasang dekorasi di Majlis Ta’lim Karandapan, menjadi Panitia, MC dan Sholawat di acara Wisuda TPQ Nurul Huda.
3)      Lomba-lomba Keagamaan
Kegiatan ini kami maksudkan agar bisa mengembangkan potensi santri-santri Masjid.
4)      Mengajar Ngaji dan Sholawat Al Barjanji dan Yasin Tahlil diMasjid dan Majlis Ta’lim
Tujuannya adalah membantu meringankan tugas mengajar dewan asatidz. Selain itu, apabila kami menemukan sesuatu yang sekiranya mungkin ditingkatkan baik dari segi metode ataupun lainnya dan kami mampu, maka akan kami usahakan dengan maksimal.
Harapan lainnya adalah agar semangat para santri dan juga asatidz semakin terpacu untuk meningkatkan belajar dan pembelajarannya. Kegiatan ini kami lakukan setiap hari di masjid secara bergilir.
5)      Partisipasi Kegiatan Muslimatan
Partisipasi kami dalam kegiatan Muslimatan bertujuan untuk ikut meramaiakan kegiatan tersebut juga sebagai ajang sosialisasi kami.
6)      Penyuluhan Keagamaan
Kegaiatan ini kami laksanakan dalam acara pengajian Muslimatan dengan tema hikmah Isro’ Mi’roj.
2.      Bidang Lintas Sektoral
a)      Bidang Lintas Sektoral Fisik
1)      Kerja bakti
Kegiatan ini kami laksanakan sebagai bentuk kepedulian kami dan warga  dalam menjaga kebersihan lingkungan.
2)      Plangisasi jalan
Plangisasi jalan yang kami buat diantaranya adalah papan batas dusun yaitu dusun Rawaapu-Cikuning, Cikuning-Cikadim.
3)      Pembuatan papan nama Kades
Rumah Kepala Desa Rawaapu kini sudah bisa cepat diketahui masyarakat dengan adanya papan nama yang telah kami buat.
4)      Penerangan Jalan
Hal ini dimaksudkan agar warga bisa merasa nyaman ketika harus berangkat ke Masjid karena suasana jalan sudah terang
5)      Penghijauan Lingkungan
Penghijauan lingkungan merupakan salah satu program kerja kami yang dimaksudkan agar suasana lingkungan mengaji bisa terlihat lebih asri. Diantara tanamanan yang kami tanan adalah bibit Cabe dan Tomat.
6)      Pembuatan Mading
Pembuatan mading kami buat agar adanya tempat khusus sebagai pusat informasi di Masjid
b)      Bidang Lintas Sektoral Non Fisik
1)      Jalan sehat lima sempurna
Program ini kami laksanakan bersama anak-anak agar mereka mulai membiasakan hidup sehat dimulai dengan berjalan kemudian minum susu setelahnya.
2)      Les anak
Selama liburan sekolah karena bertepatan dengan UN siswa SD sederajat, kami berinisiatif mengumpulkan anak-anak disekitar posko untuk kemudian kami adakan kegiatan belajar bersama.
3)      Mengadakan penyuluhan pendidikan di MI Ma’arif Rawaapu
Kegiatan ini kami laksanakan untuk memotivasi siswa-siswa MI agar mempunyai tujuan pendidikan dan cita-cita agar terus semangat belajar dan menempuh pendidikan yang tinggi.
4)      Membantu kegiatan remaja melalui pelatihan membuat kerajinan tangan dari kain flanel
Kerajinan berbahan kain flannel, akhir-akhir ini mulai menjamur. Dari model yang sederhana sampai yang kompleks dan rumit, banyak ditawarkan. Jenis kreasinya pun beragam sebut saja gantungan kunci, boneka, tempat tisu, tempat handpone, dompet, tempat pensil, pigura foto, sampai bros penghias jilbab atau baju juga dapat dibuat dari kain flannel.
Untuk itu, kami berupaya memberikan pelatihan kerajinan tangan tersebut kepada masyarakat terutama anak-anak remaja putri dengan tujuan mengajak masyarakat berkreasi lewat kain flanel.
5)      Partisipasi kegiatan Posyandu
Tujuan kegiatan ini adalah untuk membantu meringankan tugas petugas posyandu khususnya dalam menangani perkembangan balita dan juga sekaligus pembelajaran kami tentang bagaimana langkah-langkah kerja posyandu.
6)      Mengadakan lomba-lomba keagamaan dan permainan .
Tujuan diadakannya lomba adalah untuk memacu semangat belajar mereka khususnya dibidang agama, serta memberi hiburan untuk masyarkat desa Rawaapu yang sifatnya mendidik.
7)   Membantu kinerja perangkat desa
B.       Faktor Pendukung dan Penghambat
Dalam melaksanakan program-program KKN yang telah kami rencanakan, tentunya tidak lepas dari faktor-faktor pendukung dan penghambat terealisasinya program. Berikut akan kami paparkan faktor-faktor tersebut.
1.  Faktor Pendukung
a)    Dukungan penuh dari aparatur pemerintahan desa merupakan faktor besar penunjang terealisasinya program kami
b) Kebaikan warga sekitar turut memompa semangat kami dalam berkarya
c)    Kesesuaian misi dari ulama dengan misi kami untuk melaksanakan kegiatan keagamaan membuat pelaksanaan program bisa berjalan dengan lancar
d)     Kerjasama yang baik serta deskripsi job yang jelas antar mahasiswa dalam kelompok 3 ini semakin menjadikan program terealisasi dengan baik dan tepat sasaran
2.      Faktor Penghambat
a)      Medan untuk menempuh perjalanan dari satu tempat ke tempat lain cukup berat
b)      Lokasi Posko yang jauh dari perkotaan membuat waktu sedikit terhambat
c)      Kurangnya pembekalan mengenai KKN Posdaya membuat kami masih meraba-raba program diminggu pertama, ini banyak menghabiskan waktu
d)     Kondisi Posko yang relatif tidak aman sempat membuat kami harus pindah Posko dan harus kembali beradaptasi dengan suasana
e)      Adanya gangguan-gangguan kecil yang membuat konsentrasi mahasiswa sering tidak fokus dengan program
C.      Tabulasi Hasil Kegiatan Program
Berikut merupakan tabel hasil kegiatan KKN yang berhasil kami laksanakan di Desa Rawaapu.
No
Nama Kegiatan
Terlaksana
Tidak Terlaksana
Tanggal Pelaksanaan
1.
Sektoral Fisik




Plangisasi Masjid
ü   

26 Mei 2014

Rehab Ringan Masjid
ü   

25 Mei, 3 juni 2014

Perpustakaan Masjid
ü   

10 Juni 2014

Penerangan Masjid
ü   

3 Juni 2014

Plangisasi Majlis Ta’lim
ü   

7 Juni 2014
2.
Sektoral Non Fisik




Pembentukan Posdaya Masjid
ü   

29 Mei 2014

Menjadi Panitia PHBI
ü   

14, 30 Mei 2014

Lomba-lomba Keagamaan
ü   

1, 10 Juni 2014

Mengajar Ngaji dan Al Berjanji
ü   

19 Mei – 12 Juni 2014

Penyuluhan Keagamaan
ü   

27 Mei 2014
3.
Lintas Sektoral Fisik




Kerja Bakti
ü   

23 Mei 2014

Plangisasi Jalan
ü   

8 Juni 2014

Pengadaan papan nama Kades
ü   

8 Juni 2014

Penerangan Jalan
ü   

12 Juni 2014

Penghijauan Lingkungan
ü   

7 Juni 2014

Pembuatan Mading
ü   

10 Juni 2014
4.
Lintas Sektoral Non Fisik




Jalan Sehat Lima Sempurna
ü   

1 Juni 2014

Les anak
ü   

19 – 25 Mei 2014

Penyuluhan Pendidikan
ü   

11 Juni 2014

Penyuluhan Kewirausahaan
ü   

6 Juni 2014

Partisipasi Kegiatan Posyandu
ü   

9 Juni 2014

Lomba Permainan
ü   

1, 10 Juni 2014

Membantu Perangkat Desa
ü   

14, 18 Mei 2014

Dapat dikatakan bahwa rencana program yang telah berhasil kami laksanakan mencapai prosentase angka 100 %. Ini tidak lepas dari kerja keras dan kerjasama dari semua pihak.











BAB V
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kegiatan KKN STAIS Majenang angkatan ke 3 di Desa Rawaapu kecamatan Patimuan ini pada dasarnya adalah suatu bentuk pelajaran dan pendidikan nyata dalam masyarakat. Selama kami bergaul dan belajar dengan masyarakat Desa Rawaapu, banyak sekali hal-hal yang belum kami ketahui tentang dunia kemsyarakatan dengan berbagai latar belakang. Diantara hal-hal yang dapat kami jadikan kesimpulan antara lain :
1.        Melihat dari reaksi dan tanggapan masyarakat Desa Rawaapu, KKN ternyata sangat diperlukan oleh semua pihak. Baik itu pemerintahan, masyarakat maupun mahasiswa KKN itu sendiri.
2.        Kebutuhan masyarakat ternyata sangat majemuk dan beragam diberbagai terutama dalam bidang keagamaan
3.        KKN pada dasarnya adalah suatu bentuk kegiatan untuk menciptakan individu/masyarakat yang baik terhadap agama, pemerintah, orang lain, dan baik terhadap diri sendiri.
B.     Saran – saran
Setelah mahasiswa KKN belajar bermasyarakat di Desa Rawaapu selama kurang lebih 35 hari, banyak sekali hal-hal yang mungkin berseberangan dengan seabrek teori yang didapat dilingkungan kampus. Pendidikan dan pembauran dengan masyarakat lebih mengena. Belajar dengan masyarakat ternyata lebih asyik. Pendidikan yang kami rasakan di tempat KKN benar-benar pendidikan yang memanusiakan manusia.
Ada beberapa hal yang kiranya perlu disampaikan, antara lain :
1.        Sebaiknya pemilihan lokasi KKN adalah benar-benar desa-desa yang  membutuhkan sentuhan akademisi agar manfaat adanya mahasiswa KKN benar-benar bisa dirasakan secara merata.
2.        Selama ini pembelajaran di kampus masih banyak didominasi oleh sebagian besar teori dan sedikit praktek. Untuk itu kepada pihak kampus sebaiknya mengimbangi pendidikan teori dengan realita di lapangan. Hal ini sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
3.        Kepada pihak P3M STAIS Majenang perlu kami beritahukan bahwa setelah kami berbaur dengan masyarakat Desa Rawaapu, kami mendapat respon yang positif sehingga pada waktu penarikan peserta KKN, masyarakat desa Rawaapu meminta kepada peserta KKN untuk disampaikan ke pihak kampus agar kiranya KKN tahun-tahun selanjutnya Desa Rawaapu ini bisa dikunjungi kembali oleh peserta KKN.
C.    Penutup
Tiada Gading yang Tak Retak. Demikian laporan ini kami buat dengan segala kemampuan dan keterbatasan kami. Semoga laporan akhir KKN STAIS Majenang di desa Rawaapu ini bisa membawa manfaat baik oleh pihak pemerintahan Desa Rawaapu, P3M STAIS Majenang, maupun peserta KKN itu sendiri.



Foto - Foto Kegiatan kami





 

Minggu, 04 Mei 2014

Biografi Nabi Ibrahim AS

Pada 2.295 SM. Kerajaan Babilon waktu itu diperintah oleh seorang raja yang bengis dan mempunyai kekuasaan yang absolut dan zalim, ia bernama Namrudz bin Kan'aan. Karena raja itu mendapat petanda bahwa akan ada seorang bayi yang lahir disana dan bayi ini akan tumbuh kemudian menentangnya. Antara sifat insan yang akan menentangnya ini ialah dia akan membawa agama yang mempercayai satu tuhan dan akan menjadi pemusnah batu berhala. Insan ini juga akan menjadi penyebab Namrudz mati dengan cara yang dahsyat. Oleh itu Namrudz telah memerintahkan prajuritnya untuk membunuh semua bayi yang dilahirkan di tempat ini, manakala golongan lelaki dan wanita pula telah dipisahkan selama setahun.

Walaupun berada dalam keadaan cemas, kehendak Allah tetap terjadi. Isteri Aazar telah mengandung namun tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Pada suatu hari dia terasa seperti telah tiba waktunya untuk melahirkan anak dan sedar sekiranya diketahui Namrudz yang zalim pasti dia serta anaknya akan dibunuh. Dalam ketakutan, ibu Ibrahim telah bersembunyi dan melahirkan anaknya di dalam sebuah gua yang bersebelahan. Selepas itu, dia memasukkan batu-batu kecil dalam mulut bayinya itu dan meninggalkannya seorang diri. Seminggu kemudian, dia bersama suaminya kembali ke gua tersebut dan terkejut melihat Ibrahim masih hidup. Selama seminggu, bayi itu menghisap celah jarinya yang mengandungi susu dan makanan lain yang berkhasiat. Semasa berusia 15 bulan tubuh Ibrahim telah membesar dengan cepatnya seperti kanak-kanak berusia dua tahun. Maka kedua ibu bapaknya berani membawanya pulang kerumah mereka.

Masa remaja

Semasa remajanya Ibrahim sering diperintah ayahnya keliling kota menjajakan patung-patung buatannya, namun karena iman dan tauhid yang telah diilhamkan oleh Allah kepadanya ia tidak bersemangat untuk menjajakan barang-barang itu bahkan secara mengejek ia menawarkan patung-patung ayahnya kepada calon pembeli dengan kata-kata: "Siapakah yang akan membeli patung-patung yang tidak berguna ini?"

Mencari Tuhan yang sebenarnya

Pada masa Ibrahim, kebanyakan rakyat di Mesopotamia beragama politeisme yaitu menyembah lebih dari satu Tuhan dan menganut paganisme. Dewa Bulan atau Sin merupakan salah satu berhala yang paling penting. Bintang, bulan dan matahari menjadi objek utama penyembahan dan karenanya, astronomi merupakan bidang yang sangat penting. Sewaktu kecil Ibrahim sering melihat ayahnya membuat patung-patung tersebut, lalu dia berusaha mencari kebenaran agama yang dianuti oleh keluarganya itu.
Dalam alkitab (kitab kejadian) menceritakan tentang pencariannya dengan kebenaran. Pada waktu malam yang gelap, beliau melihat sebuah bintang (bersinar-sinar), lalu ia berkata: "Inikah Tuhanku?" Kemudian apabila bintang itu terbenam, ia berkata pula: "Aku tidak suka kepada yang terbenam hilang". Kemudian apabila dilihatnya bulan terbit (menyinarkan cahayanya), dia berkata: "Inikah Tuhanku?" Maka setelah bulan itu terbenam, berkatalah dia:  
"Demi sesungguhnya, jika aku tidak diberikan petunjuk oleh Tuhanku, nescaya menjadilah aku dari kaum yang sesat". 
Kemudian apabila dia melihat matahari sedang terbit (menyinarkan cahayanya), berkatalah dia:  
"Inikah Tuhanku? Ini lebih besar". 
Setelah matahari terbenam, dia berkata pula:  
"Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri (bersih) dari apa yang kamu sekutukan (Allah dengannya)". 
 Inilah daya logika yang dianugerahi kepada beliau dalam menolak agama penyembahan langit yang dipercayai kaumnya serta menerima tuhan yang sebenarnya.

Berdakwah kepada ayahnya

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir dengan sanad shahih dari Jarikh pada firman Allah: "Ketika Ibrahim berkata pada ayahnya azar,
...dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaum-mu dalam kesesatan yang nyata." (Al An'aam 6:74)
Diantara mufassirin berpendapat bahwa azar bukan ayahnya namun pamannya. Al-Qur'an hanya menjelaskan bahwa Ibrahim adalah putra Aazar, ayah Ibrahim sama sebagaimana kaumnya yang lain, bertuhan dan menyembah berhala, ia adalah pembuat dan pedagang patung-patung yang dibuat dan dipahatnya sendiri dan dariya orang membeli patung-patung yang dijadikan persembahan. Nabi Ibrahim merasa bahwa kewajiban pertama yang harus ia lakukan sebelum berdakwah kepada orang lain ialah menyadarkan ayah kandungnya dulu orang yang terdekat kepadanya bahwa kepercayaan dan persembahannya kepada berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sesat dan bodoh. Ia merasakan bahwa kebaktian kepada ayahnya mewajibkannya memberi penerangan kepadanya agar melepaskan kepercayaan yang sesat itu dan mengikutinya beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa.
Dengan sikap yang sopan dan adab yang patut ditunjukkan oleh seorang anak terhadap orang tuanya dan dengan kata-kata yang halus ia datang kepada ayahnya menyampaikan bahwa ia diutuskan oleh Allah sebagai nabi dan rasul dan bahwa ia telah diilhamkan dengan pengetahuan dan ilmu yang tidak dimiliki oleh ayahnya. Ia bertanya kepada ayahnya dengan lemah lembut gerangan apakah yang mendorongnya untuk menyembah berhala seperti lain-lain kaumnya padahal ia mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak berguna sedikit pun tidak dapat mendatangkan keuntungan bagi penyembahnya atau mencegah kerugian atau musibah. Diterangkan pula kepada ayahnya bahwa penyembahan kepada berhala-berhala itu adalah semata-mata ajaran setan yang memang menjadi musuh kepada manusia sejak Adam diturunkan ke bumi. Ia berseru kepada ayahnya agar merenungkan dan memikirkan nasihat dan ajakannya berpaling dari berhala-berhala dan kembali menyembah kepada Allah yang menciptakan manusia dan semua makhluk yang dihidupkan memberi mereka rezeki dan kenikmatan hidup serta menguasakan bumi dengan segala isinya kepada manusia.

Aazar menjadi merah mukanya dan melotot matanya mendengar kata-kata seruan puteranya Ibrahim yyang ditanggapinya sebagai dosa dan hal yang kurang patut bahwa puteranya telah berani mengecam dan menghina kepercayaan ayahnya bahkan mengajakkannya untuk meninggalkan kepercayaan itu dan menganut kepercayaan dan agama yang ia bawa. Ia tidak menyembunyikan murka dan marahnya tetapi dinyatakannya dalam kata-kata yang kasar dan dalam makian namun seakan-akan tidak ada hubungan di antara mereka. Ia berkata kepada Nabi Ibrahim dengan nada gusar:  
"Hai Ibrahim! Berpalingkah engkau dari kepercayaan dan persembahanku? Dan kepercayaan apakah yang engkau berikan kepadaku yang menganjurkan agar aku mengikutinya? Janganlah engkau membangkitkan amarahku dan coba mendurhakaiku. Jika engkau tidak menghentikan penyelewenganmu dari agama ayahmu tidak engkau hentikan usahamu mengecam dan memburuk-burukkan persembahanku, maka keluarlah engkau dari rumahku ini. Aku tidak sudi tinggal bersama denganmu di dalam suatu rumah di bawah suatu atap. Pergilah engkau dari mukaku sebelum aku menimpamu dengan batu dan mencelakakan engkau."
Ibrahim menerima kemarahan ayahnya, pengusirannya dan kata-kata kasarnya dengan sikap tenang, normal selaku anak terhadap ayah seraya berkata:  
"Wahai ayahku! Semoga engkau selamat, aku akan tetap memohonkan ampun bagimu dari Allah dan akan tinggalkan kamu dengan persembahan selain kepada Allah. Mudah-mudahan aku tidak menjadi orang yang celaka dan malang dengan doaku untukmu." Lalu keluarlah Ibrahim meninggalkan rumah ayahnya dalam keadaan sedih karena gagal mengangkatkan ayahnya dari lembah syirik dan kafir.

Menghancurkan Berhala-berhala

Kegagalan Ibrahim dalam usahanya menyadarkan ayahnya yang tersesat itu sangat menusuk hatinya kerana ia sebagai putera yang baik ingin sekali melihat ayahnya berada dalam jalan yang benar terangkat dari lembah kesesatan dan syirik namun ia sadar bahwa hidayah itu adalah di tangan Allah dan bagaimana pun ia ingin dengan sepenuh hatinya agar ayahnya mendapat hidayah, bila belum dikehendaki oleh Allah maka sia-sialah keinginan dan usahanya. Penolakan ayahnya terhadap dakwahnya dengan cara yang kasar dan kejam itu tidak sedikit pun memengaruhi ketetapan hatinya dan melemahkan semangatnya untuk berjalan terus memberi penerangan kepada kaumnya untuk menyapu bersih persembahan-persembahan yang bathil dan kepercayaan-kepercayaan yang bertentangan dengan tauhid dan iman kepada Allah dan Rasul-Nya.
Ibrahim tidak henti-henti dalam setiap kesempatan mengajak kaumnya berdialog dan bermujadalah tentang kepercayaan yang mereka anut dan ajaran yang ia bawa, dan ternyata bahwa apabila mereka sudah tidak berdaya menolak dan menyanggah alasan-alasan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Ibrahim tentang kebenaran ajarannya dan kebathilan kepercayaan mereka maka dalil dan alasan yang usanglah yang mereka kemukakan yaitu bahwa mereka hanya meneruskan apa yang bapak-bapak dan nenek moyang mereka lakukan sejak turun-temurun dan sesekali mereka tidak akan melepaskan kepercayaan dan agama yang telah mereka warisi.

Ibrahim pada akhirnya merasa tidak bermanfaat lagi untuk berdebat dan bermujadalah dengan kaumnya yang keras kepala dan yang tidak mahu menerima keterangan dan bukti-bukti nyata yang dikemukakan oleh beliau dan selalu berpegang pada satu-satunya alasan bahawa mereka tidak akan menyimpang daripada cara persembahan nenek moyang mereka, walaupun telah Ibrahim menasihati mereka berkali-kali bahawa mereka dan bapak-bapak mereka keliru dan tersesat mengikuti jejak syaitan. Ibrahim kemudian merancang akan membuktikan kepada kaumnya dengan perbuatan yang nyata yang dapat mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa berhala-berhala dan patung-patung mereka betul-betul tidak berguna bagi mereka dan bahkan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri.

Adalah sudah menjadi tradisi dan kebiasaan penduduk kerajaan Babilonia bahwa setiap tahun mereka keluar kota beramai-ramai pada suatu hari raya yang mereka anggap sebagai keramat. Berhari-hari mereka tinggal diluar kota di suatu padang terbuka, berkemah dengan membawa perbekalan makanan dan minuman yang cukup. Mereka bersuka ria dan bersenang-senang sambil meninggalkan kota-kota mereka kosong dan sunyi. Mereka berseru dan mengajak semua penduduk agar keluar meninggalkan rumah dan turut beramai -ramai menghormati hari-hari suci itu. Ibrahim yang juga turut diajak untuk turut serta berlagak berpura-pura sakit dan diizinkanlah ia tinggal di rumah apalagi mereka merasa khawatir bahwa penyakit Ibrahim yang dibuat-buat itu akan menular dan menjalar di kalangan mereka bila ia turut serta.

"Inilah dia kesempatan yang ku nantikan." kata hati Ibrahim tatkala melihat kota sudah kosong dari penduduknya, sunyi senyap tidak terdengar kecuali suara burung-burung yang berkicau, suara daun-daun pohon yang gemerisik ditiup angin kencang. Dengan membawa sebuah kapak ditangannya ia pergi menuju tempat beribadatan kaumnya yang sudah ditinggalkan tanpa penjaga, tanpa juru kunci dan hanya deretan patung-patung yang terlihat diserambi tempat peribadatan itu. Sambil menunjuk kepada sesaji bunga-bunga dan makanan yang berada di setiap kaki patung berkata Ibrahim, mengejek: 
"Mengapa kamu tidak makan makanan yang lezat yang disajikan bagi kamu ini? Jawablah aku dan berkata-katalah kamu." 
 Kemudian disepak, ditamparlah patung-patung itu dan dihancurkannya berpotong-potong dengan kapak yang berada di tangannya. Patung yang besar ditinggalkannya utuh, tidak diganggu yang pada lehernya dikalungkanlah kapak Ibrahim itu.

Terperanjat dan terkejutlah para penduduk, tatkala pulang dari berpesta ria di luar kota dan melihat keadaan patung-patung, tuhan-tuhan mereka hancur berantakan dan menjadi potongan-potongan terserak-serak di atas lantai. Bertanyalah satu kepada yang lain dengan nada heran dan takjub:  
"Gerangan siapakah yang telah berani melakukan perbuatan yang jahat dan keji ini terhadap tuhan-tuhan persembahan mereka ini?"
  Berkata salah seorang di antara mereka: 
"Ada kemungkinan bahwa orang yang selalu mengolok-olok dan mengejek persembahan kami yang bernama Ibrahim itulah yang melakukan perbuatan yang berani ini." Seorang yang lain menambah keterangan dengan berkata:"Bahkan dialah yang pasti berbuat, karena ia adalah satu-satunya orang yang tinggal di kota sewaktu kami semua berada di luar merayakan hari suci dan keramat itu." 
 Selidik punya selidik, akhirnya terdapat kepastian yang tidak diragukan lagi bahwa Ibrahimlah yang merusakkan dan memusnahkan patung-patung itu. Rakyat kota beramai-ramai membicarakan kejadian yang dianggap suatu kejadian atau penghinaan yang tidak dapat diampuni terhadap kepercayaan dan persembahan mereka. Suara marah, jengkel dan kutukan terdengar dari segala penjuru, yang menuntut agar si pelaku diminta bertanggungjawab dalam suatu pengadilan terbuka, dimana seluruh rakyat penduduk kota dapat turut serta menyaksikannya.

Memang itulah yang diharapkan oleh Ibrahim agar pengadilannya dilakukan secara terbuka di mana semua warga masyarakat dapat turut menyaksikannya. Karena dengan cara demikian beliau dapat secara terselubung berdakwah menyerang kepercayaan mereka yang bathil dan sesat itu, seraya menerangkan kebenaran agama dan kepercayaan yang ia bawa, kalau di antara yang hadir ada yang masih boleh diharapkan terbuka hatinya bagi iman dari tauhid yang ia ajarkan dan dakwahkan. Hari pengadilan ditentukan dan datang rakyat dari segala pelosok berduyung-duyung mengujungi padang terbuka yang disediakan bagi sidang pengadilan itu.

Ketika Ibrahim datang menghadap Namrudz yang akan mengadili ia disambut oleh para hadirin dengan teriakan kutukan dan cercaan, menandakan sangat gusarnya para penyembah berhala terhadap beliau yang telah berani menghancurkan persembahan mereka. Ditanyalah Ibrahim oleh Namrud: 
"Apakah engkau yang melakukan penghancuran dan merusakkan tuhan-tuhan kami?" Dengan tenang dan sikap dingin, Ibrahim menjawab:"Patung besar yang berkalungkan kapak di lehernya itulah yang melakukannya. Coba tanya saja kepada patung-patung itu siapakah yang menghancurkannya." 
Namrudz pun terdiam sejenak. Kemudian beliau berkata:" Engkaukan tahu bahwa patung-patung itu tidak dapat berbicara dan berkata mengapa engkau minta kami bertanya kepadanya?" 
Tibalah masanya yang memang dinantikan oleh Ibrahim, maka sebagai jawaban atas pertanyaan yang terakhir itu beliau berpidato membentangkan kebathilan persembahan mereka, yang mereka pertahankan mati-matian, semata-mata hanya karena adat itu adalah warisan nenek-moyang. Berkata Ibrahim kepada Namrud itu: 
"Jika demikian halnya, mengapa kamu sembah patung-patung itu, yang tidak dapat berkata, tidak dapat melihat dan tidak dapat mendengar, tidak dapat membawa manfaat atau menolak mudharat, bahkan tidak dapat menolong dirinya dari kehancuran dan kebinasaan? Alangkah bodohnya kamu dengan kepercayaan dan persembahan kamu itu! Tidakkah dapat kamu berfikir dengan akal yang sehat bahwa persembahan kamu adalah perbuatan yang keliru yang hanya difahami oleh syaitan. Mengapa kamu tidak menyembah Tuhan yang menciptakan kamu, menciptakan alam sekeliling kamu dan menguasakan kamu di atas bumi dengan segala isi dan kekayaan. Alangkah hina dinanya kamu dengan persembahan kamu itu."

Setelah selesai Ibrahim menguraikan pidatonya itu, Namrudz mencetuskan keputusan bahwa Ibrahim harus dibakar hidup-hidup sebagai ganjaran atas perbuatannya menghina dan menghancurkan tuhan-tuhan mereka, maka berserulah para hakim kepada rakyat yang hadir menyaksikan pengadilan itu:"Bakarlah ia dan belalah tuhan-tuhanmu, jika kamu benar-benar setia kepadanya."

Dibakar Hidup-hidup

Keputusan mahkamah telah dijatuhkan. Ibrahim harus dihukum dengan membakar hidup-hidup dalam api yang besar sebesar dosa yang telah dilakukan. Persiapan bagi upacara pembakaran yang akan disaksikan oleh seluruh rakyat sedang dipersiapkan. Tanah lapang bagi tempat pembakaran disediakan dan diadakan pengumpulan kayu bakar dengan banyaknya dimana tiap penduduk secara gotong-royong harus mengambil bagian membawa kayu bakar sebanyak yang ia dapat sebagai tanda bakti kepada tuhan-tuhan persembahan mereka yang telah dihancurkan oleh Ibrahim.

Berduyun-duyunlah para penduduk dari segala penjuru kota membawa kayu bakar sebagai sumbangan dan tanda bakti kepada tuhan mereka. Di antara terdapat para wanita yang hamil dan orang yang sakit yang membawa sumbangan kayu bakarnya dengan harapan memperoleh berkaharakah dari tuhan-tuhan mereka dengan menyembuhkan penyakit mereka atau melindungi yang hamil di kala ia bersalin. Setelah terkumpul kayu bakar di lapangan yang disediakan untuk upacara pembakaran dan tertumpuk serta tersusun laksana sebuah bukit, berduyun-duyunlah orang datang untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman atas diri Ibrahim. Kayu lalu dibakar dan terbentuklah gunung berapi yang dahsyat yang sedang berterbangan di atasnya berjatuhan terbakar oleh panas yang ditimbulkan oleh api yang menggunung itu. Kemudian dalam keadaan terbelenggu, Ibrahim diangkat ke atas sebuah bangunan yang tinggi lalu dilemparkan ia kedalam tumpukan kayu yang menyala-nyala.

Sejak keputusan hukuman dijatuhkan sampai saat ia dilemparkan ke dalam bukit api yang menyala-nyala itu, Ibrahim tetap menunjukkan sikap tenang dan tawakkal karena iman dan keyakinannya bahwa Allah tidak akan rela melepaskan hamba pesuruhnya menjadi makanan api dan korban keganasan orang-orang kafir musuh Allah, dan memang demikianlah apa yang terjadi tatkala ia berada dalam perut bukit api yang dahsyat itu ia merasa dingin sesuai dengan seruan Allah Pelindungnya dan hanya tali temali dan rantai yang mengikat tangan dan kakinya yang terbakar hangus, sedang tubuh dan pakaian yang terlekat pada tubuhnya tetap utuh, tidak sedikit pun tersentuh oleh api, hal mana merupakan suatu mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada hamba pilihannya, Ibrahim, agar dapat melanjutkan penyampaian risalah yang ditugaskan kepadanya kepada hamba-hamba Allah yang tersesat itu.

Orang ramai tercengang dengan keajaiban ini dan mula mempersoalkan kepercayaan kepada Namrudz. Malah anak perempuan Namrud sendiri yaitu Puteri raja mulai mempercayai agama yang dibawa oleh beliau. Lalu Puteri itupun mengaku di hadapan khalayak ramai bahwa Tuhan Ibrahim adalah Tuhan yang sebenarnya. Ini telah menaikkan kemarahan beliau yang mengarahkan tenteranya untuk membunuh puterinya itu. Puteri itupun menuju ke arah api yang besar itu lalu berkata "Tuhan Ibrahim selamatkanlah aku". Puteri raja pun turut terselamat dari terbakar dan dalam api yang membara itu kerena dia mengucap kalimah syahadah. Tindakan durhaka puterinya menjadikan hati Raja Namrud semakin membara. Dalam keadaan sehat tanpa suatu apapun, puteri raja keluar dari api tersebut, beliau serta tenteranya telah mengejarnya kedalam hutan. Ini memberi peluang kepada Ibrahim serta adik tirinya Sarah, bapaknya Aazar serta anak saudaranya Nabi Luth untuk melarikan diri. Namrudz dan tenteranya puas mencari puteri raja tetapi puteri itu telah hilang. Selepas sekian lama, merekapun pulang dan mendapati bahawa Ibrahim turut terlepas. Setelah peristiwa ini, Namrudz kian gelisah kerana rakyatnya mula hilang kepercayaan dengan kekuasaannya. Oleh itu, beliau berjanji pula untuk membunuh Tuhan Ibrahim.

Mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada Ibrahim sebagai bukti nyata akan kebenaran dakwahnya, telah menimbulkan kegoncangan dalam kepercayaan sebahagian penduduk terhadap persembahan dan patung-patung mereka dan membuka mata hati banyak daripada mereka untuk memikirkan kembali ajakan Ibrahim dan dakwahnya, bahkan tidak kurang daripada mereka yang ingin menyatakan imannya kepada Nabi Ibrahim, namun khawatir akan mendapat kesukaran dalam penghidupannya akibat kemarahan dan balas dendam para pemuka dan para pembesarnya yang mungkin akan menjadi hilang akal bila merasakan bahwa pengaruhnya telah beralih ke pihak Ibrahim.
Sumber : Wikipedia